Satu Brand Gerakin 50 Ribu Creator, Ini Alasannya

Dulu, kalau Brand besar mau bikin gebrakan di ajang olahraga, jalannya itu-itu saja, menggandeng satu bintang terkenal, lalu membuat satu iklan besar. Di Piala Dunia 2026 kemarin, Unilever membuka jalan yang beda total. Brand miliknya, seperti Dove, Axe, dan Rexona, nggak mencari satu bintang, tapi mengerahkan 50 ribu Creator sekaligus di lebih dari 120 market berbeda, dari yang sudah punya nama sampai yang baru mulai.
Kenapa Berita Ini Penting
Angka 50 ribu itu datang langsung dari rilis resmi Unilever, jadi bisa dipegang. Yang lebih penting, angka sebesar itu menunjukkan cara pikir Brand sudah bergeser, dari satu nama besar ke banyak orang yang bisa bikin konten. Buat clipper, artinya pintu masuknya makin lebar, karena yang dicari sekarang kemampuan menggarap konten.
Daftar Isi
1. Yang terjadi di Piala Dunia 2026
2. Kenapa Brand pilih banyak orang
3. Penyelenggaranya sendiri juga ikut berubah
4. Pola yang sama lagi kejadian di Indonesia
5. Konsisten mengalahkan sekali viral
6. Kenapa ini penting buat clipper
7. Yang bisa mulai kamu coba
8. FAQ
9. Sumber
1. Yang Terjadi di Piala Dunia 2026

Piala Dunia 2026 punya format baru, 48 tim yang digelar di tiga negara sekaligus. Tapi di kalangan industri media, yang paling diingat justru soal lain. Orang lebih banyak mengikuti pertandingan lewat Creator daripada lewat siaran televisi.
Angkanya bikin kaget. Menurut data Tubular Labs, konten seputar Piala Dunia mengumpulkan lebih dari 259 miliar tontonan video di YouTube, Instagram, dan TikTok, dan dari seluruh keterlibatan penonton itu, lebih dari 70 persen datangnya dari Creator.
Di tengah situasi itu Unilever menjalankan rangkaian promosi yang mereka sebut terbesar sepanjang sejarah perusahaan. Coba bayangkan skalanya, 50 ribu orang itu kira-kira seukuran penduduk satu kecamatan, dan semuanya bikin konten buat satu rangkaian campaign yang sama dalam rentang 39 hari turnamen.
Mereka bahkan membangun tempat khusus buat para Creator, namanya House of Fresh, yang berdiri di tiga kota tuan rumah. Ruangannya sengaja dirancang supaya hasil rekamannya langsung cocok buat media sosial, jadi kreator nggak perlu mengedit ulang dari nol.
2. Kenapa Brand Pilih Banyak Orang
Mengurus satu bintang jelas lebih gampang ketimbang mengurus puluhan ribu orang. Jadi wajar kalau muncul pertanyaan kenapa Unilever nggak pakai cara lama saja.
Jawabannya ada di angka performa. Analisis Digiday menemukan konten dari Creator mengalahkan unggahan selebriti kalau dihitung per tontonan. Konten Creator teratas dapat sekitar 929 ribu views, sementara unggahan selebriti cuma sekitar 573 ribu. Angka ini nilai tengah, artinya titik tengah dari semua data, bukan rata-rata yang mudah tertarik satu video yang meledak.
Jadi nama besar nggak otomatis menang. Buat Brand, mengerahkan banyak Creator menambah jangkauan, sekaligus memberi hasil per konten yang lebih bagus.
Yang perlu dicatat, langkah Unilever ini sudah disiapkan jauh sebelum turnamen. Sejak Maret 2025 mereka sudah mengumumkan bakal mengalihkan
separuh anggaran iklannya ke media sosial dan menggandeng influencer sampai 20 kali lipat lebih banyak dari sebelumnya.
3. Penyelenggaranya Sendiri Juga Ikut Berubah
Pergeseran ini nggak berhenti di Brand saja. FIFA untuk pertama kalinya menunjuk TikTok sebagai mitra platform pilihan, semacam status khusus yang memberi satu platform akses dan kerja sama lebih dalam dari yang lain. Lewat kerja sama itu sekelompok Creator dapat akses setingkat pers.
Aksesnya benar-benar serius. Mereka bisa masuk sesi latihan, konferensi pers, pemanasan, sampai posisi khusus di hari pertandingan. Semua itu
tadinya cuma jatah wartawan resmi.
"...beyond the 90 minutes, with exclusive content and unprecedented creator access." — James Stafford, Global Head of Content TikTok, dalam rilis resmi FIFA
Maksudnya, penonton bakal merasakan Piala Dunia lebih dari sekadar 90 menit pertandingan, lewat konten khusus dan akses Creator yang belum pernah ada sebelumnya. Programnya sendiri melibatkan 30 Creator dari 11 negara, sementara YouTube jalanin program serupa dengan 24 Creator yang total pengikutnya tembus 350 juta.
4. Pola yang Sama Lagi Kejadian di Indonesia
Semua angka tadi datangnya dari luar negeri, jadi wajar kalau kamu mengira situasinya beda di sini. Ternyata polanya mirip, dan datanya ada.
Cube bersama impact.com menyurvei 2.400 konsumen dan 30 pelaku industri di enam pasar Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Temuan utamanya sederhana. Orang sekarang makin nggak gampang percaya sama rekomendasi belanja, baik dari selebriti maupun dari Creator.
Tapi penurunan kepercayaan itu ternyata nggak rata di semua tingkatan. Biar gampang, bayangin ada 100 orang yang tadinya kepengaruh rekomendasi Creator waktu mau belanja. Sekarang jumlahnya berkurang, dan besar penurunannya beda-beda di tiap tingkatan.
Tingkatan Influencer | Jumlah Berkurang (per 100 orang) |
|---|---|
Selebriti | 8 orang |
Mega (di atas 1 juta pengikut) | 7 orang |
Macro (ratusan ribu pengikut) | 5 orang |
Nano (paling kecil) | 4 orang |
Micro (puluhan ribu pengikut) | 3 orang |
Angka dari Campaign Indonesia, bersumber dari Cube x impact.com Southeast Asia Influencer Marketing Report 2025.
Polanya paling kelihatan di dua baris teratas. Selebriti dan mega influencer, kelompok yang selama ini dianggap paling aman buat Brand, justru kehilangan kepercayaan paling banyak. Sementara Creator yang lebih kecil cuma turun tipis, sekitar 3 sampai 5 orang dari tiap 100.
Menariknya lagi, orang Indonesia sama sekali nggak berhenti belanja lewat Creator. Riset yang sama mencatat 90 persen konsumen Indonesia pernah beli produk lewat tautan afiliasi Creator, link khusus yang bikin kreatornya dapat komisi tiap ada orang beli lewat situ. Angka itu tertinggi di kawasan bersama Vietnam. Jadi kepercayaannya nggak hilang, cuma pindah tempat.
Indonesia Creator Marketing Report 2026 dari IDN Research Institute merangkum pergeserannya dengan rapi. Pengaruh sekarang bergerak "dari angka menuju nilai, dari eksposur menuju kepercayaan, dan dari popularitas menuju komunitas". Artinya, jumlah pengikut makin turun perannya, sementara kepercayaan makin naik.
5. Konsisten Mengalahkan Sekali Viral
Ada satu temuan yang paling berguna buat clipper. Rachel DeMita masuk lima besar Creator berdasarkan nilai media di turnamen ini, sekitar satu juta dolar. Perlu dicatat, nilai media itu ukuran perkiraan biaya iklan yang setara, jadi angkanya beda dari penghasilan yang dia terima.
Dia sampai situ karena jadi yang paling rajin mengunggah di antara kelompok teratas, 49 video TikTok dalam rentang 21 hari, yang total muncul 7,5 juta kali di layar orang. Forbes secara terang-terangan menyebut konsistensi yang mendorong angkanya, bukan momen viral tunggal.
Angka nilai media sebesar itu jelas nggak realistis buat dikejar, tapi ritmenya bisa. Kalau dihitung kasar, 49 video dalam 21 hari itu sekitar dua sampai tiga unggahan per hari selama tiga minggu, ukuran yang masih kebayang buat dikejar.
6. Kenapa Ini Penting Buat Clipper
Model kerja Unilever di atas sering disebut campaign massal. Intinya satu campaign digarap banyak orang sekaligus, dan ini persis model yang membuat platform seperti Konten.com bisa ada. Brand menyiapkan materi beserta lisensinya, lalu mengundang banyak orang buat mengolah materi itu jadi konten.
Buat kamu, ada dua hal penting. Pertama, kamu nggak perlu terkenal dulu buat ikut, karena yang dicari Brand adalah hasil garapan kamu. Kedua, permintaan buat model seperti gini lagi naik.
Data penurunan tadi juga memberi ketenangan tersendiri. Kalau pengaruh nama besar lagi meredup sementara Creator kecil lebih tahan, kamu nggak lagi bersaing sama artis, soalnya yang dinilai bukan siapa kamu, tapi seberapa bagus kontennya.
7. Yang Bisa Mulai Kamu Coba
Kalau kamu mau menempatkan diri di model kerja seperti gini, ini beberapa langkah yang bisa diambil.
Ikut campaign yang sudah dikasih materinya langsung sama Brand, soalnya itu tandanya kamu memang diizinkan bikin clip dari materi itu, jadi kamu bisa fokus menggarap konten tanpa was-was soal izin
Bangun ritme unggah yang beneran bisa kamu jaga, karena data di atas menunjukkan rutin lebih berpengaruh ketimbang menunggu satu momen besar
Simpan hasil kerjaan sebagai rekam jejak, karena akses resmi biasanya mencari yang portofolionya sudah jelas
Pantau momen besar yang bakal datang, lalu siapkan diri sebelum campaign-nya buka
Berhenti menunggu punya banyak pengikut, karena yang dinilai Brand adalah hasil kontennya
Piala Dunia memang empat tahun sekali, tapi momen besar lain datang jauh lebih sering. Ada liga yang jalan tiap pekan, ada perayaan tahunan, dan ada peluncuran produk. Polanya sama, cuma skalanya yang beda.
Brand sekarang mencari banyak tangan, bukan satu nama besar
Yang dibutuhkan untuk ikut cuma kemauan menggarap konten dengan rutin dan rapi.
Jelajahi Campaign di Konten.com →
Sumber
How Women Content Creators Broke Through At The 2026 FIFA World Cup, 27 Juli 2026 — Forbes
Kepercayaan konsumen Indonesia pada mega influencer merosot — Campaign Indonesia
Perbandingan performa kreator dan selebriti di Piala Dunia — Digiday
FIFA tunjuk TikTok sebagai Preferred Platform pertama, berisi kutipan resmi — Variety
Pertanyaan yang sering ditanyakan
Bayarannya dihitung dari hasil masing-masing, jadi banyaknya peserta nggak otomatis mengecilkan bagian kamu karena yang menentukan tetap performa konten yang kamu bikin.
Nggak. Inti dari model ini malah sebaliknya, Brand butuh banyak konten dari banyak orang, dan data soal Creator kecil yang lebih tahan penurunan juga menguatkan itu.
Dua hal ini beda. Yang turun adalah tingkat pengaruh per orang, terutama di kalangan nama besar, sementara yang naik adalah jumlah Brand yang pakai model ini. Turunnya pengaruh nama besar bikin Brand menyebar ke lebih banyak Creator kecil.
Cukup daftar gratis di Konten.com, pilih campaign yang tersedia, lalu unggah clip pertamamu. Detail langkah-langkahnya bisa kamu cek di panduan Cara Daftar & Bikin Akun Creator di Konten.com.



